Di tengah peralihan senja menuju petang, ratusan pemuda dan pemudi berkumpul di sekitaran Bale Banjar Pura Doho, Desa Adat Pekraman Nagi. Balutan udeng atau semacam ikat kepala dan kamen atau sarung adat Bali bermotif kotak-kotak hitam putih melekat dalam tubuh mereka. Diiringi alunan tembang gegenjakan, riuh sorak-sorai semangat mereka terdengar keras bersaing dengan suara gamelan Bali.

Ada yang berbeda dari suasana banjar saat itu. Hampir semua warga keluar dari rumahnya masing-masing dan berkumpul di area banjar. Mereka bersiap menggelar ritual Mesabatan Api atau lebih dikenal dengan sebutan perang api. Tradisi turun temurun yang dilangsungkan jelang perayaan Nyepi ini diikuti oleh pemuda-pemudi dari Sekaa Teruna Teruni (STT) Mekarjaya ,Desa Adat Pekraman Nagi, Ubud, Gianyar, Bali.

Sebelum mengawali ritual perang api, pemangku adat setempat melakukan doa dan sembahyang di dalam pura. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan memercikan air atau tirta suci kepada para peserta yang akan mengikuti ritual Mesabatan Api di depan bale banjar. Pelaksanaan ritual perang api dimulai pada masa pergantian waktu antara senja menuju malam tatkala matahari benar-benar tenggelam. Waktu yang dikenal dengan istilah sandikala ini melambangkan dua elemen yang berbeda dalam satu kesatuan yang saling membutuhkan atau Rwa Bhineda.

Dengan bertelanjang dada dan sebagian besar dari mereka tak beralas kaki, para pemuda tangguh dari Banjar Nagi Pulau Dewata ini bersiap memulai ritual Mesabatan Api. Tumpukan batok kelapa yang dibakar hingga merah membara menjadi komponen utama dalam pelaksanaan ritual perang api ini. “Ainggih rarisin tradisi sabatan apine (mari segera dimulai tradisi mesabatan api atau perang apinya),” ujar Jro Bendesa Desa Adat Pekraman Nagi yang terdengar melalui alat pengeras suara.

Tak lama berselang, ritual perang api pun dimulai. Salah seorang pemuda mengawalinya dengan berlari melintasi bara api sambil menendang tumpukan batok kelapa yang tengah terbakar oleh nyala api yang membara. Teriakan dari segala penjuru pun terdengar riuh. Lantas para pemuda Desa Adat Nagi mulai mengambil batok kelapa yang tengah terbakar api dan saling lempar satu sama lain. Tak ada ketakutan maupun keraguan yang tergambar di wajah para pemuda. Semuanya nampak begitu berani dan bersemangat.

Semakin malam keseruan kian terasa. Tak ada cahaya apa pun yang menerangi jalannya prosesi Mesabatan Api malam itu. Satunya-satunya sumber cahaya berasal dari nyala api di batok kelapa yang terbakar itu sendiri. Semua pemuda tampak menjadi gila, beringas, dan terkesan lepas kendali. Namun tak ada satu pun dari mereka yang marah ataupun tersulut emosinya. Yang ada malah senyum ceria di raut wajah mereka ketika lemparan batok kelapa yang terbakar api berhasil mengenai tubuh sasaran.

Mesabatan Api


Traveller’s Note

  • Bagi kamu yang ingin sekedar menyaksikan ataupun ikut mengabadikan atraksi perang api di Banjar Nagi ini, bawa dan pakailah selalu udeng dan Udeng dan kamen menjadi perangai wajib bagi setiap orang yang ingin berkunjung ke sebuah banjar atau pura.
  • Datanglah sebelum senja tiba. Prosesi ritual Mesabatan Api atau perang api ini dimulai sekitar pukul 19.00 WITA atau saat peralihan senja menuju petang. Perlu diketahui juga prosesi ini digelar pada saat malam pengerupukan atau malam sebelum Hari Raya Nyepi. Pada saat itu biasanya banyak jalan-jalan umum di Bali yang ditutup untuk persiapan arak-arakan ogoh-ogoh, jadi sebaiknya kamu berangkat lebih awal.
  • Berhati-hatilah dan selalu waspada saat menyaksikan atau sedang merekam prosesi ritual perang api ini. Sewaktu-waktu bisa jadi akan ada batok kelapa yang tengah menyala merah terbakar api melayang di atas kepalamu.
  • Pakailah sepatu untuk melindungi kakimu bila tak sengaja menginjak bara api dari batok kelapa saat prosesi Mesabatan Api atau perang api tengah berlangsung.
  • Meskipun bukan warga Bali, jika tertarik untuk turut serta dalam prosesi perang api ini kamu tetap diperbolehkan oleh pihak banjar. Pastikan kamu minta ijin kepada pemangku adat dan mentaati segala peraturan adat yang berlaku.
  • Bagi kamu yang ingin mengabadikan momen ritual perang api, memotretlah dengan tenang, santai, dan beretika. Seorang pejalan yang bijak adalah yang memahami etika ketika berada di suatu tempat dan memahami serta menghormati aturan adat setempat.