Rona pagi yang berpadu dengan alunan gending Bali dan aroma dupa menjadi sebuah sambutan yang sempurna tatkala memasuki pintu masuk kawasan wisata Pura Ulun Danu Beratan. Lalu-lalang masyarakat setempat dan iring-iringan gadis bali dalam balutan busananya yang khas kian memanjakan mata. Sejenak saya terbius dengan aura magis. Semuanyan sangat membekas di hati dan mustahil untuk dapat dihapus dari memori.

Pura Ulun Danu Beratan telah menjadi salah satu ikon wajah pariwisata Pulau Bali dan bahkan Indonesia. Lokasinya yang berada pada ketinggian sekitar 1239 meter di atas permukaan laut membuat udara di sekitar tempat ini terasa sejuk, bersih, dan segar. Suasanya yang hening dan sering berkabut pun mampu membuat hati siapapun yang berkunjung menjadi damai. Pesona dan keindahan pura luhur yang memiliki meru (atap) bertumpang sebelas ini seakan tak lekang oleh pergantian zaman dan perputaran waktu. Tak heran bila namanya sangat tersohor hingga ke berbagai belahan bumi.

Menurut informasi, Pura Ulun Danu Bratan adalah salah satu candi air terbesar di Pulau Bali. Pura yang berdiri cantik di atas Danau Bratan ini sebenarnya difungsikan untuk upacara persembahan bagi Dewi Danu atau dalam bahasa Bali berarti Dewi Danau dan Dewi Air dalam kepercayaan Hindu Bali. Selain sebagai tempat suci untuk laku ritual pemujaan kepada para dewa dewi, pura ini pun juga menjadi tempat dilangsungkannya Upacara Melasti yang diselenggarakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Berdasarkan catatan sejarahnya yang terdapat di lontar Babad Mengwi, Pura Ulun Danu Bratan telah ada sejak 500 tahun sebelum Masehi atau pada zaman megalitikum Bali. Hal ini dibuktikan dari peninggalan benda bersejarah berupa sarkofagus batu dan papan batu yang saat ini diletakkan pada halaman teras atau babaturan pura. Walaupun merupakan salah satu bangunan kuno di Pulau Dewata, seluruh kondisi fisik Pura Ulun Danu Bratan masih asli dan terawat dengan cukup baik.

Diceritakan dalam Babad Mengwi, I Gusti Agung Putu sebagai pendiri Kerajaan Mengwi telah mendirikan sebuah pura cantik nan indah di sisi barat daya Danau Beratan sebelum beliau mendirikan Pura Taman Ayun yang saat ini berloaksi di Mengwi. Sejak pembangunan Pura Ulun Danu selesai, konon Kerajaan Mengwi menjadi tentram, makmur, dan sejahtera karena Danau Bratan dapat sekaligus digunakan untuk keperluan irigasi ladang pertanian masyarakat. Sang raja Kerajaan Mengwi pun akhirnya dijuluki dengan gelar “I Gusti Agung Sakti”, atau seorang raja yang besar, sakti, dan bijaksana.

Menurut mitos yang dipercayai masyarakat setempat, konon Danau Beratan tempat berdirinya Pura Ulun Danu dulunya merupakan danau terbesar dan terluas di Pulau Dewata. Namun pada suatu ketika terjadi bencana gempa bumi yang maha dahsyat hingga akhirnya membelah Danau Bratan menjadi tiga bagian antara lain Danau Bratan sendiri, Danau Tamblingan, dan yang terakhir adalah Danau Buyan. Ketiga danau tersebut lokasinya saling berdekatan.

Penamaan kata “Bratan” sendiri diambil dari kata Brata yang dalam bahasa Bali memiliki makna pengendalian diri dengan menutup sembilan lubang kehidupan. Selain itu, kata “Brata” juga dapat ditemui dalam istilah “Tapa Brata” atau ritual semedi atau meditasi sambil berdiam diri. Tapa Brata ini biasa dilangsungkan pada perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu untuk pembersihan diri dan mencapai ketenangan agar dapat menyatu dengan alam dan dapat berinteraksi dengan Sang Hyang Widi.

Kompleks Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu Bratan

Suasana di dalam pura utama di dalam kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Kompleka bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan di kawasan wisata Bedugul ini terdiri dari empat bagian bangunan suci. Bagian pertama adalah Pura Lingga Petak yang memiliki tiga meru atau tingkatan di atap bangunan sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Siwa. Kemudian Pura Penataran Puncak Mangu yang memiliki 11 tingkat meruyang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Wisnu. Kemudian Pura Teratai Bang sebagai pura utama yang berdiri cukup luas di antara kompleks pura lainnya dan memiliki tiga batu di depan gapura masuk pura. Dan yang terakhir adalah Pura Dalem Purwa yang digunakan untuk memohon kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Secara garis besar, kompleks bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan memang ditujukan untuk persembahan bagi dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) dalam kepercayaan Hindu Bali. Hal ini tak hanya dapat dilihat dari struktur bentuk bangunan pura, akan tetapi juga dari penemuan tiga buah batu berwarna merah, hitam, dan putih di tahun 1968. Ketiga warna tersebut merupakan simbol suci (Tri Datu) dimana merah melambangkan Bhatara Brahma atau ‘Sang Pencipta’ , kemudian hitam yang melambangkan Bhatara Wisnu sebagai ‘Sang Penyeimbang’, dan putih sebagai simbol Bhatara Siwa sebagai ‘Sang Pelebur’.

Lokasi dan Akses Menuju Pura Ulun Danu Bratan

Kompleks bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan terletak di kawasan wisata Bedugul, tepatnya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Jaraknya kurang lebih 50 kilometer dari Kota Denpasar atau sekitar 70 kilometer dari Pantai Kuta, Bali. Letaknya yang berada di sebelah utara Kota Denpasar ini membuat perjalanan wisata dapat dilakukan secara sekaligus karena jalurnya searah dengan Pantai Lovina di Singaraja, Air Terjun Gitgit, Air Terjun Banyumala, dan beberapa danau eksotik lain seperti Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Perjalanan darat dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam dari Kota Denpasar.

Harga Tiket dan Jam Buka 

  • Tiket masuk wisatawan domestik: Rp 30.000 / orang (dewasa)
  • Tiket masuk wisatawan domestik: Rp 20.000 / orang (anak)
  • Tiket masuk wisatawan mancanegara: Rp 100.000 / orang
  • Parkir kendaraan roda dua: Rp 2.000
  • Parkir kendaraan roda empat: Rp 5.000
  • Parkir bus: Rp 10.000 / 1 bus.
  • Jam buka untuk wisatawan: setiap hari pukul 07.00 s/d 17.00 WITA.